Sabtu, 26 April 2014

Fenomena Kacang Lupa Pada Kulitnya

                Kita melihat betapa banyak partai politik dan para anggotanya unjuk gigi menjelang pemilu, berapa dana yang telah mereka habiskan demi menjadi anggota legeslatif, duduk dibangku DPR, tiap hari mereka berpikir bagaimana caranya agar bisa menang dan kembali modal, tanpa pernah memikirkan rakyat, yang dipikirkannya dari rakyat adalah bagaimana rakyat bisa memilihnya.
                Inilah fenomena yang terjadi setiap 5 tahun sekali, mereka mempunyai visi dan misi itu hanya sebagai syarat untuk menjadi aggota legeslatif dan duduk dibangku DPR. Padahal rakyat menyakini itu adalah janji yang harus ditepati tetapi bagi mereka itu hanyalah suara kosong yang panjang angan-angan.
                Betapa Banyak rakyat yang berharap dengan adanya pemilu ini, maka akan menimbulkan perubahan. Perubahan yang menyebabkan berkurang angka kemiskinan dan pengangguran serta korupsi yang meraja lela. Berapa ratus juta rupiah uang Negara hilang demi kepentingan pribadi dan betapa banyak orang yang memerlukan uang tersebut untuk kepentingan umum.
                Mengapa mereka tidak mau berpikir, mungkin sebagian orang sudah muak akan hal ini sehingga ada sebagian dari rakyat berpendapat untuk tidak memilih alias golput, memilih dan tidak itu sama saja. Rakyat yang berharap kepada pemimpin baru, kemudian pemimpin itu mengecewakan mereka. Apa hasilnya?
                Apa yang dapat diperbuat oleh rakyat setelah itu? Mengeluh atau menerima apa yang terjadi. Mungkin ada beberapa orang yang berbendapat tidak semua orang yang duduk dibangku DPR mereka adalah orang yang salah, orang yang selalu korupsi, dan orang yang ingkar janji. Didalam sana pasti ada orang yang baik yang selalu mengingatkan kawan- kawannya untuk tidak melakukan hal kotor sepert itu. Tetapi suaranya itu sangat kecil sehingga orang yang berada disekitarnya tidak menghiraukannya.
                Para pejabat sebelum dijabat ia melambai-lambaikan tangan dan menunjukkan giginya kepada masyarakat tetapi setelah terpilih mereka seperti kacang yang lupa akan kulitnya bahkan ia seperti benalu bagi rakyat, mengambil manfaat sesaat saja, bahkan ada yang lebih parah lagi mereka seperti pagar makan tanaman, mereka diperintahkan untuk menjaga harta Negara tetapi mereka malah merusaknya.

                Seharusnya untuk menciptakan Negara yang baik maka dipersiapkan generasi yang baik pula, sesungguhnya korupsi berawal dari yang tidak baik dan yang tidak baik itu adalah nyontek saat ulangan, mau menerima suap dan tidak mau berskipa jujur serta suka melakukan kecurangan dan keburukan. Untuk itulah kita harus mempersiapkan generasi yang tidak melakukan hal itu karena orang yang duduk dibangku DPR akan terus berganti sampailah kepada generasi yang sudah baik tadi. Sehingga InsyaAllah akan tercipta masyarakat yang baik, teratur dan sejahtera.

M. Irsyad Hadi Purwoko
1201311252

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda.