Kita melihat betapa banyak
partai politik dan para anggotanya unjuk gigi menjelang pemilu, berapa dana
yang telah mereka habiskan demi menjadi anggota legeslatif, duduk dibangku DPR,
tiap hari mereka berpikir bagaimana caranya agar bisa menang dan kembali modal,
tanpa pernah memikirkan rakyat, yang dipikirkannya dari rakyat adalah bagaimana
rakyat bisa memilihnya.
Inilah fenomena yang terjadi
setiap 5 tahun sekali, mereka mempunyai visi dan misi itu hanya sebagai syarat
untuk menjadi aggota legeslatif dan duduk dibangku DPR. Padahal rakyat
menyakini itu adalah janji yang harus ditepati tetapi bagi mereka itu hanyalah
suara kosong yang panjang angan-angan.
Betapa Banyak rakyat yang
berharap dengan adanya pemilu ini, maka akan menimbulkan perubahan. Perubahan
yang menyebabkan berkurang angka kemiskinan dan pengangguran serta korupsi yang
meraja lela. Berapa ratus juta rupiah uang Negara hilang demi kepentingan
pribadi dan betapa banyak orang yang memerlukan uang tersebut untuk kepentingan
umum.
Mengapa mereka tidak mau
berpikir, mungkin sebagian orang sudah muak akan hal ini sehingga ada sebagian
dari rakyat berpendapat untuk tidak memilih alias golput, memilih dan tidak itu
sama saja. Rakyat yang berharap kepada pemimpin baru, kemudian pemimpin itu
mengecewakan mereka. Apa hasilnya?
Apa yang dapat diperbuat oleh
rakyat setelah itu? Mengeluh atau menerima apa yang terjadi. Mungkin ada
beberapa orang yang berbendapat tidak semua orang yang duduk dibangku DPR
mereka adalah orang yang salah, orang yang selalu korupsi, dan orang yang
ingkar janji. Didalam sana pasti ada orang yang baik yang selalu mengingatkan kawan-
kawannya untuk tidak melakukan hal kotor sepert itu. Tetapi suaranya itu sangat
kecil sehingga orang yang berada disekitarnya tidak menghiraukannya.
Para pejabat sebelum dijabat ia
melambai-lambaikan tangan dan menunjukkan giginya kepada masyarakat tetapi
setelah terpilih mereka seperti kacang yang lupa akan kulitnya bahkan ia
seperti benalu bagi rakyat, mengambil manfaat sesaat saja, bahkan ada yang
lebih parah lagi mereka seperti pagar makan tanaman, mereka diperintahkan untuk
menjaga harta Negara tetapi mereka malah merusaknya.
Seharusnya untuk menciptakan Negara
yang baik maka dipersiapkan generasi yang baik pula, sesungguhnya korupsi
berawal dari yang tidak baik dan yang tidak baik itu adalah nyontek saat
ulangan, mau menerima suap dan tidak mau berskipa jujur serta suka melakukan
kecurangan dan keburukan. Untuk itulah kita harus mempersiapkan generasi yang
tidak melakukan hal itu karena orang yang duduk dibangku DPR akan terus
berganti sampailah kepada generasi yang sudah baik tadi. Sehingga InsyaAllah
akan tercipta masyarakat yang baik, teratur dan sejahtera.
M. Irsyad Hadi Purwoko
1201311252
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas komentar anda.