Rabu, 23 April 2014

LITERASI POLITIK MEDIA MASSA MENJELANG PEMILU

Nama  : M.abda suki
Nim      :1291311292

Acara Seminar nasional
Narasumber : 1.  Dr.Gungun Haryanto ,M.Si
                       2. Firdaus Muhammad ,MA

Literasi Politik Di Media Massa Menjelang Pemilu
Dimana media massa menjadi pemeran utama dalam berkampanye yang ada di Indonesia dan di antara media massa itu pun ada pemiliknya yang mencalonkan menjadi presiden maupun wakil presiden. Apakah itu suatu tindakan yang adil dalam berkampanye?

adapun beberapa cara berkampanye di media massa dan meintegrasikan “Koherensi Reputasi Politik”  yang mempengaruhi media massa yaitu :
INDIVIDUAL LEVEL
MEDIARASIONAL LEVEL
ORGANITATION LEVEL
EXTRA MEDIA LEVEL
IDIOLOGICAL LEVEL
    Literasi politik yaitu membuat diri menjadi efektif dalam kehidupan public dan menjadi aktif partisipati dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Aadapun beberapa aktifitas Literasi Politik yaitu :
1) Mengetahui bagaimana keputusan yang di buat oleh masyarakat lokal
2) Mengetahui hak seseorang untuk terlibat
3) Menjadi  akrab dengan berbagai ide ide Politik
4) Mengembangkan seperangkat pribadi yang memiliki nilai nilai politik


    Selain aktifitas literasi politik masyarakat juga harus mengetahui yang disebut Operasional Literasi Politik yaitu :
1) Mendaftar dan mengkritisi politik
2) Membuat group untuk membicarakan masalah politik
3) Melakukan pendidikan politik
    Kitapun sebagai pemilih harus sadar betul dengan calon legeslatif yang akan kita pilih di pemilu 9 april mendatang jangan karna media yang kita lihat atau iklan yang memperlihatkan slah satu capres dan cawapres lalu kita terpengaruh.
   Sepanjang tahun politik ini media sangat andil besar dalam menjalankan tanggung jawabnya dengan mengedukasi public dengan pemberitahuan yang berkualitasdan berimbang, bukan berita yang bimbang atau timpang. namun kendalanya  acapkali media di paksa mengikuti kehendak dari owner yang memanffaatkannya untuk kepentingan politik golongan dan partai secara sesaat. Intinya mereka menjalankan politik pencitraan sehingga pungsinya hanya sebagai alat kontrol justru yang di kontrol naif dan anomali.

23-04-2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda.