Jumat, 25 April 2014



        Partai politik mempunyai posisi dan peranan yang sangat penting dalam Sistem Demokrasi. Partai Politiklah yang sebetulnya menentukan Demokrasi, oleh karena itu partai merupakan pilar yang sangat urgen untuk diperkuat derajat pelembagaannya dalam setiap sistem politik yang demokratis.

        Partai memainkan peran sebagai penghubung yang sangat strategis antara proses-proses Pemerintahan dengan Warga Negara. dan diharapkan mampu menampung Aspirasi Publik yang kemudian disuarakan di Parlemen dan dieksekusi di dalam Pemerintahan. Akan tetapi Ironisnya, partai politik saat ini justru dinilai sebagai Pembusuk Politik dan Demokrasi Indonesia itu sendiri. Pembusukan Politik dan Demokrasi disebabkan karena Lemahnya sistem kaderisasi partai, Tidak jelasnya ideologi atau gagasan yang diusung oleh partai politik, Banyaknya politisi Partai Politik yang terlibat kasus korupsi dan masih banyak lagi permasalahan-permaslahan yang ada di internal partai tersebut. Jika kegagalan-kegagalan Partai Politik seperti ini, apalagi yang bisa kita harapkan sebagai suatu institusi politik untuk penyambung lidah antara 

          Pemerintah dengan Masyarakat?
Jadi Dalam hal ini, Partai politik bukan lagi sebagai penyambung atau jembatan antara pemerintah dengan masyarakat, bukan lagi mewadahi aspirasi masyarakat, dan bukan sebagai pejuang untuk mensejahterakan rakyat, melainkan partai politik itu hanya sebagai kendaraan untuk mencapai kekuasaan semata, sebagaimana yang dikatan Gabriel A. Almond (1974), “Partai politik memiliki tujuan utama yaitu mengarah pada penguasaan suatu jabatan publik”

          Sebagaimana biasanya yang kita ketahui prilaku pejabat publik, ketika mendapatkan kedudukan sebagai pejabat publik, yang semestinya mengemban amanah rakyat dengan melayani kepentingan masyarakat umum, malah kewajiban tersebut diabaikan karena sibuk mengurus partai dan janji-janji politik lainnya, kita lihat aja salah satu Pejabat Publik, dalam hal ini Presiden RI Cuti pada Tanggal 17 dan 18 Maret 2014 untuk melaksanakan Kampanye Partai Demokratnya, hal serupa dilakukan oleh pejabat-pejabat publik lainnya.

               Berkampanye untuk Diri Sendiri atau Partainnya merupakan salah satu upaya mengerahkan massa sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan simpati atau dukungan dari rakyat, dalam menghadapi pertarungan Pemilu Legislatif pada 9 April dan Pemilu Presiden (Pilpres) pada tanggal 9 Juli mendatang, saat kampanye saat itu juga partai dan caleg mempromosikan program atau produk-produk yang unggul tentunya yang disukai oleh masyarakat dan setidaknya bisa mengurangi beban hidup masyarakat yang selama ini mereka rasakan.

            Akan tetapi menurut pendapat saya, sedikit demi sedikit seiring dengan waktu masyarakat makin kritis dengan banyaknya sumber informasi yang tersedia, jadi masyarakat lebih peka terhadap permasalahan perpolitikan Bangsa ini, sehingga masyarakat tersebut bisa menentukan pilihannya, tokoh mana yang pantas memimpin dan tokoh mana yang memiliki strategi yang pas untuk menyelesaikan permasalahan Bangsa ini.
Saat berkampanye inilah Partai politik beserta kader-kadernya berkoar-koar menyampaikan Visi Misinya di berbagai Daerah-daerah bahkan ke Pelosok-pelosok Nusantara, Visi Misinya itu tidak lain seperti Sembako Murah, Sekolah Gratis, Pelayanan yang Tanggap Cepat, Layanan Kesehatan Gratis dan lain-lainnya. Janji-janji Busuk Partai dan Caleg seperti ini masyarakat menganggap hal yang lumrah dan masyarakat juga tahu itu hanya sebatas Bahasa Marketing Calon Penguasa semata.

        Hal-hal seperti inilah yang terjadi dalam masyarakat dan proses Demokrasi di Indonesia, dengan berbagai macam cara dan strategi tipu daya agar masyarakat nantinya memilih partai atau tokoh tersebut, akan tetapi masyarakat saat ini sudah agak sulit untuk mengharapkan janji-janji partai dan caleg tersebut.
Berdasarkan permasalahan diatas, Partai politik itu sebenarnya tidak lebih dari sebuah Kendaraan Politik yang ditumpangi segelintir atau sekelompok orang untuk mencapai kekuasaan, disini penulis menganalogikan Partai Politik itu Bagaikan Kendaraan atau Truk Sampah yang Lalulalang ke Daerah, ke Desa-Desa bahkan ke Pelosok-Pelosok untuk menyebarkan bau atau janji-janji kebusukannya.
Oleh karena itu penting bagi kita untuk berusaha cerdas dalam memilih partai politik beserta caleg yang diusungnya. Berikut ini adalah tips untuk memilih caleg agar terhindar dari kebusukannya :

1. jangan pilih caleg yang menghambur-hamburkan uang saat berkampanye. sebenernya hal ini sudah menjadi rahasia publik bila setiap pemilihan caleg pasti membagi-bagikan uang kerap dilakukan walaupun bawaslu atau KPU melarang yang namanya politik uang ini. kita tidak bisa menggunakan logika “belum kepilih aja udah bagi-bagi duit, apalagi pas kepilih” , tapi gunakan logika ekonomi “dengan duit sekecil-kecilnya ketika sudah jadi akan meraup untung sebanyak-banyaknya”. sudah bisa dipastikan yang namanya orang yang menghabiskan uang cuma untuk bisa duduk di kursi pejabat seperti ini nanti kalau sudah terpilih akan mengutamakan mengembalikan modal terlebih dulu. Jangan harap mau memikirkan rakyat. itulah kenapa banyak simpatisan caleg secara sukarela lebih mendukung caleg yang tidak ‘berduit’, seperti tukang becak, ojek, tukang sapu dan lain-lain. intinya apabila diberi uang semacam itu, ambil uangnya tapi tidak usah pilih calegnya.

2. jangan pilih caleg yang menempel spanduk, baliho, atau stiker di pohon atau di jalan yang bisa membuat macet lalu lintas. tahu kah anda, dari 6000-an caleg yang ada, cuma 7% saja caleg yang memiliki program peduli lingkungan. sisanya? wallahu’alam . caleg yang tidak peduli lingkungan, hanya akan menghancurkan sumber daya alam yang ada di Indonesia ini. pemilih juga mesti sadar bahwa kehidupannya tidak cuma sampai 5 tahun ke depan saja, tapi sampai anak-cucu-cicit dan seterusnya. lingkungan sekarang kalau tidak dijaga apalagi tidak di dukung dengan program pemerintah tentunya akan semakin rusak. daerah hijau di seluruh Indonesia semakin sedikit, dan pastinya kasus kekeringan, kebakaran hutan, polusi, air bersih dan “impor” pangan akan semakin banyak.

3. jangan memilih caleg yang mencatut nama atau foto orang yang sudah terkenal terlebih dahulu dimana foto tokoh itu lebih besar dari fotonya sendiri. dan tidak sedikit yang berfoto bersama agar orang menafsirkan dia dekat dengan tokoh itu dengan tujuan untuk membesarkan namanya. misalnya dengan menggunakan embel-embel nama atau foto seperti megawa**,  joko**, ah**, wi*-h*, atau malah ulama dan artis lainnya. kenapa? ada dua indikasi orang yang seperti itu : 1. dia type orang yang tidak percaya diri. belum terpilih saja tidak percaya diri, bagaimana mau menyuarakan suara rakyat nanti? 2. dia pembohong karena menempelkan foto orang yang tidak pernah bertemu sama sekali padahal dia berdampingan, kadang bertatapan bahkan bersalaman, hanya melalui teknik photoshop. belum jadi saja sudah membohongi masyarakat, apalagi sudah terpilih?

4. jika caleg mempunya website, akun sosial media atau malah mencantumkan nomor hp, cobalah menghubungi mereka. tanyakan visi dan misi, atau program yang akan dijalankan jika terpilih nanti. kalau bisa ajaklah bertemua agar kenal langsung orangnya  bagaimana. jika yang menanggapi adalah calegnya langsung (atau bisa jadi simpatisannya) dengan baik dan sopan masih okelah untuk dipilih. jika tidak ditanggapi atau malah merasa terganggu dengan dihubungi, maka tidak usah memilih caleg tersebut. belum terpilih saja sudah enggan mendengarkan suara rakyat, apalagi sudah kepilih?.
5. jika ke-empatnya sudah anda lakukan tapi masih saja bingung, maka jalan paling tepatnya adalah solat istikharah, dijamin insya Allah anda akan merasa mantap untuk memilih calegnya. ingat, lebih baik milih dengan cerdas, dari pada golput!!!!. masa depan indonesia ada di tangan kita semua.

oleh : MUHAMMAD TOHA

sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda.